Cara Menghilangkan Grogi Saat Wawancara Kerja

Oleh: M. Deman Putra Tarigan

Wawancara kerja (interview) adalah satu dari beberapa tahapan yang umumnya harus dilewati oleh para pencari kerja pada saat seleksi. Jika para pelamar pekerjaan telah lulus seleksi administrasi, tes tertulis atau psikotes, biasanya para pemberi kerja akan melakukan wawancara langsung dengan kandidat. Melalui proses interview inilah bagian personalia (SDM) sebuah perusahaan akan berinteraksi langsung sehingga dapat menentukan mana kandidat yang layak diterima.

Proses wawancara kerja ini sangat penting, sebab di sinilah pihak perusahaan dapat memverifikasi hasil tes sebelumnya. Dengan wawancara, perusahaan juga bisa mengeksplorasi lebih luas tentang calon karyawannya termasuk hal-hal yang perlu dinegosiasikan. Sehingga diharapkan karyawan yang lulus nantinya memang benar sesuai harapan dan kebutuhan perusahaan.

Mengingat pentingnya wawancara kerja ini maka sebagai pelamar kerja, kita harus mempersiapkan diri dengan berbagai macam kemampuan dan keterampilan. Namun masalahnya, walaupun kita sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin, selalu muncul rasa grogi pada saat kita sudah berada di ruang tunggu perusahaan tersebut. Apalagi ketika kita dipanggil dan kita mulai memasuki ruangan interview. Rasanya jantung hendak copot dan dunia terbalik.

Cara Menghilangkan Grogi Saat Wawancara Kerja

Cara Menghilangkan Grogi Saat Wawancara Kerja. Sumber foto: pixabay via Google Image

Rasa grogi atau kurang percaya diri ini dapat menjadi masalah yang besar. Sebab hal tersebut mampu membuat kita tidak lancar berkomunikasi sehingga pihak perusahaan tidak dapat menangkap dengan baik apa yang kita sampaikan. Lebih parah lagi jika pihak perusahaan malah menganggap kita tidak berkompeten sehingga langsung mencoret nama kita.

Untuk itulah melalui artikel ini, saya akan membagikan beberapa tips tentang cara menghilangkan grogi saat wawancara kerja berdasarkan pengalaman saya beberapa kali mengikuti proses interview di beberapa perusahaan.

# 1 – Menjadi Diri Sendiri

Sesuatu akan menggangu dan bisa menjadi beban jika tidak berada pada tempatnya. Menurut saya, menjadi diri sendiri itu poin yang sangat penting dalam kondisi apa pun. Ketika kita berusaha untuk menjadi orang lain, kita akan merasa tidak nyaman. Bukan itu saja, orang lain juga akan merasakan adanya “keanehan” pada diri Anda.

Pada saat mengikuti wawancara kerja, jadilah diri sendiri. Anda tak perlu berpura-pura menjadi orang lain jika orang lain itu bukan Anda. Itu artinya: jujurlah kepada para pencari kerja.

Biasanya kita akan menjadi grogi jika jika takut salah menjawab, takut tidak diterima, takut dianggap tidak cakap. Ketakutan ini tidak perlu ada jika Anda jujur. Katakan Anda bisa, jika memang bisa. Katakan Anda belum bisa, tapi akan berusaha belajar lebih giat supaya bisa. Ini lebih baik daripada Anda berbohong dengan mengatakan “bisa” pada saat wawancara.

# 2 – Ikhlas

Setelah menjadi diri sendiri, dengan berniat jujur, maka selanjutnya Anda harus ikhlas. Artinya jika nanti tidak diterima bekerja maka Anda ikhlas menerimanya. Anggaplah ini yang terbaik. Dengan rasa ikhlas seperti itu justru akan membuat perasaan grogi menjadi sirna karena kita tidak ada beban.

Cobalah ikhlas atas ketidakberhasilan yang kita alami. Percayalah, pada saat itu, itulah yang terbaik.

Namun ikhlas ini jangan disalahartikan menjadi “menyerah”. Bukan seperti itu. Kita ikhlas atas ketidakberhasilan saat itu dan belajar dari kegagalan tersebut. Selanjutnya kita harus tetap optimis untuk menjalani hidup dan berbuat yang terbaik untuk mencapai keberhasilan pada proses selanjutnya.

Dengan rasa ikhlas dan siap menerima jika kita tidak lulus interview kerja, maka perasaan grogi akan hilang dengan sendirinya. Anda akan lebih rileks menghadapi semua pertanyaan. Bukan tidak mungkin dengan demikian Anda malah menjadi kandidat yang lulus. Cobalah!

# 3 – Terus Berlatih

Mungkin Anda masih ingat bagaimana grogi-nya Anda ketika pertama kali naik sepeda? Dan jatuh …. Tapi sekarang Anda sudah lancar naik sepeda dan tidak grogi lagi. Itu karena Anda terus berlatih.

Coba Anda bayangkan:

  • Seorang dokter ketika pertama kali membedah pasiennya;
  • Seorang pilot ketika pertama kali menerbangkan pesawat;
  • Seorang pawang ular ketika pertama kali memegang makhluk berbisa itu.

Pada saat semua hal kita kerjakan pertama kali maka rasa grogi, gugup, bahkan mungkin frustasi, akan muncul. Namun perasaan-perasaan tersebut akan hilang seiring dengan semakin seringnya kita melakukan pekerjaan itu.

Dokter yang sudah ratusan kali mengoperasi pasiennya akan tampak tenang. Begitu pula pilot dengan jam terbang ribuan maka dia akan rileks saat menghadapi turbulensi. Sama halnya dengan pawang ular yang sudah ratusan kali memegang ular maka akan menjadi “teman” ular.

Maka, latihlah diri Anda dalam berkomunikasi pada saat wawancara. Caranya bisa dengan mengajak teman Anda untuk membuat simulasi wawancara kerja dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang bisa diperoleh dari buku-buku.

Selain itu, cobalah layangkan lamaran pada lowongan yang lokasinya dekat dengan Anda walaupun sebenarnya posisi yang ditawarkan kurang Anda minati. Tujuannya untuk menambah “jam terbang” Anda dalam wawancara atau interview. Dengan demikian maka semakin lama semakin kecil rasa grogi dan gugup dalam menghadapi wawancara kerja.

# 4 – Rileks

Untuk membuat rileks caranya bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Ada orang yang menjadi rileks dengan mendengarkan musik atau bernyanyi; ada juga dengan membaca; ada yang menyeruput kopi; berendam di air hangat; atau ada pula dengan membayangkan hal-hal yang lucu.

Maka kenalilah diri Anda, hal apa saja yang dapat menenangkan pikiran dan membuat Anda lebih santai. Sebelum masuk ke ruang wawancara, lakukanlah hal-hal yang bisa membuat Anda rileks selama itu memungkinkan. Selamat mencoba!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *