Guru Vs Google, Ibarat Batman Vs Superman

Oleh: M. Deman Putra Tarigan

Pada zaman sekarang, seorang siswa SMA yang sedang mencari informasi tentang ibu kota Suriname bisa bertanya langsung kepada gurunya atau bisa juga “bertanya” kepada Google. Jika bertanya kepada gurunya, siswa tadi mungkin hanya mendapatkan jawaban bahwa ibu kota Suriname adalah Paramaribo. Namun jika dia bertanya kepada Google yang berada di dalam ponsel cerdasnya maka dia tidak hanya mendapatkan informasi itu saja. Selain “ibu kota Suriname adalah Paramaribo”, dia juga bakal mendapatkan informasi lain seputar Paramaribo. Siswa tadi akan mengetahui bahwa luas wilayah Paramaribo sekitar 183 km persegi, jumlah penduduknya sekitar 542.000, dan 2,4 persen penduduknya menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari.

Dari perumpamaan tadi, apakah Google lebih hebat dibanding seorang guru?

Sejak Internet ditemukan dan terus berkembang hingga kini, dunia informasi dan pendidikan mengalami perubahan yang sangat signifikan.  Saat ini ada sekitar 1 milyar situs internet yang siap menyajikan berbagai informasi, data, berita, video, bahkan hiburan kepada Anda setiap hari selama 24 jam tanpa henti. Padahal, dalam satu situs itu sendiri masih ada puluhan bahkan ada yang mencapai ribuan halaman ataupun subdomain lagi. demanputra.com Jadi bisa dibayangkan betapa luasnya “galaksi” informasi yang ada di Internet.

Guru vs Google

Di tengah luasnya Internet, Google hadir sebagai pintu masuk bagi kita yang ingin mencari informasi tentang suatu hal tanpa perlu ribet dengan alamat situs ataupun URL yang panjang. Cukup buka Google dan ketikkan apa yang ingin Anda cari maka tak sampai 1 detik kemudian informasi yang Anda butuhkan sudah muncul. Dengan demikian, Google sudah menjadi seperti kantong ajaib Doraemon yang siap mengeluarkan apa saja yang dibutuhkan Nobita.

Hebatnya lagi, kini Google ada di ponsel cerdas (smartphone) yang kita bawa ke mana-mana, bahkan sering dibawa-serta ke tempat tidur. Artinya kita sudah 24 jam bersama Google. Jika Anda butuh informasi dan capek mengetik, Anda bisa langsung ngomong kepada Google yang ada di smartphone dan dia akan mencari informasi yang Anda butuhkan saat itu juga.

Kehebatan Google masih banyak lagi. Dia tak ingin cuma menjadi robot yang hanya bisa bekerja jika diperintah, tapi dia juga berusaha menjadi lebih manusiawi dan menjadi sahabat Anda. Dia bisa memberikan suggestion ketika kita mengetikkan sesuatu sehingga berperilaku seperti peramal yang menerka apa yang ingin kita cari, setelah itu dia mampu memberikan informasi yang relevan, tepat seperti yang kita pikirkan. Selain itu dia juga memberikan informasi lain yang masih terkait (related). Hebat, bukan? Itu sebabnya banyak orang yang mengatakan bahwa Google serba-tahu.

Lantas, bagaimana peran guru di tengah kehebatan Google ini?

Jika ada orang yang membanding-bandingkan guru dengan Google maka dia seperti Zack Snyder, seorang sutradara yang “melaga” Batman melawan Superman. Bagaimana mungkin dua superhero itu diadu? Bukankah lebih baik jika keduanya bersatu melawan para penjahat di bumi?

Sama halnya seperti guru vs Google. Keduanya tidak perlu dipertentangkan karena mereka bisa saling melengkapi. Google memang bisa menyajikan informasi yang tepat, cepat, akurat selama 24 jam tetapi Google tidak memiliki kebijaksanaan. Google—walaupun berusaha menjadi “manusia”—tetaplah bukan manusia yang memiliki perasaan, kearifan, dan pengalaman hidup. Google bisa pintar karena ada orang lain yang pintar yang memberikan informasi yang benar dan tepat di internet. Tanpa orang tersebut maka Google tidak akan bisa seperti itu. Bahkan jika ada orang yang jail dengan membuat situs yang berisi informasi yang salah, kemudian dengan menggunakan ilmu SEO (search engine optimization) yang jitu maka informasi salah tadi bisa muncul di halaman pertama SERP (search engine result page) Google. Akhirnya, para pengguna Google pun memperoleh informasi yang salah itu.

Di sinilah peran guru sangat diperlukan. Sebagai manusia yang benar-benar manusia lahir dan batin, guru dapat memilah, memilih, menimbang, dan memberikan kesimpulan atas suatu informasi yang dibutuhkan. Jadi lebih tepat jika guru berkolaborasi dengan Google, sama seperti Batman yang akhirnya bersahabat dengan Superman serta bahu-membahu melawan musuh mereka.

Pengguna Google tetap perlu guru, dan guru juga perlu Google sebagai media dan alat pengajaran yang canggih. Bagi guru, Google selayaknya dijadikan mitra dan juga hal yang dapat memotivasi guru untuk terus meningkatkan dan memperbarui pengetahuannya. demanputra.com. Jadi guru jangan mau kalah dan ketinggalan dengan Google.

Selain itu, guru juga bisa membuat materi pelajaran yang berkualitas dengan berbasis pengalaman hidupnya. Hal ini akan menjadi informasi yang “hidup” karena telah dijalani langsung oleh sang guru. Untuk itu seorang guru bisa membuat sebuah situs pribadi, blog, ataupun sekadar Notes di halaman Facebook-nya. Lebih keren lagi, jika seorang guru membuat tutorial pelajaran ataupun informasi dalam bentuk video kemudian mengunggahnya ke Youtube. Dengan judul dan tag yang tepat maka video tadi akan di-crawling oleh mesin pencari Google untuk kemudian disajikan di depan para pencari informasi yang membutuhkannya sesuai dengan apa yang di-googling.

Untuk membuat sebuah video tutorial pelajaran saat ini tidaklah sulit. Seorang guru bisa menggunakan kamera ponselnya untuk merekam—jika ada yang memiliki kamera khusus maka itu lebih baik lagi. Setelah proses rekaman, maka akan dilanjutkan denga proses editing video untuk menambahkan teks, animasi, atau sekadar memotong bagian-bagian yang tidak perlu. Proses ini juga relatif mudah dan bisa dibantu siswa jurusan multimedia di SMK.

Selanjutnya video tadi di-review oleh beberapa orang guru untuk mendapatkan saran atau masukan tambahan. Jika sudah oke maka video tadi bisa langsung diunggah ke Youtube dan saat itu juga sudah bisa ditonton oleh semua orang di seluruh dunia.

Dengan demikian, jika pun seorang siswa “bertanya” ke Google tentang ibu kota Suriname maka dia akan mendapatkan jawaban berupa video dari seorang guru bernama Paijo yang sedang jalan-jalan ke Paramaribo lengkap dengan informasi luas kota, penduduk, serta percakapan berbahasa jawa dengan penduduk Paramaribo yang leluhurnya memang berasal dari Pulau Jawa. Jika ini terjadi, maka siapapun boleh bertanya kepada Google dan guru jualah yang akan menjawabnya.

Tulisan ini diterbitkan di Harian Analisa, 12 Mei 2016

Comments
  1. Reply
    • M. Deman Putra Tarigan
      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *