Mencegah “THR” (Tekor di Hari Raya)

Oleh: M. Deman Putra Tarigan

Bagi para pekerja atau karyawan, Hari Raya Idul Fitri erat kaitannya dengan THR (tunjangan hari raya). Tradisi ini sudah berlangsung puluhan tahun sehingga sudah sangat akrab dengan kehidupan kita sehari-hari dalam menyambut Lebaran.

Semua orang pasti senang menerima THR. Bukan hanya para pekerja atau karyawan, anak-anak pun akan mendapatkan “THR” dari orang tua atau kerabat. Itu sebabnya pada saat Lebaran kita sering mendengar pertanyaan: mana THR-nya?

Sesuai Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan, tunjangan hari raya keagamaan  adalah pendapatan non-upah yang wajib dibayarkan oleh pengusaha kepada pekerja/buruh atau keluarganya menjelang hari raya keagamaan dan dibayarkan paling lambat tujuh hari sebelum hari raya keagamaan. Adapun besaran THR adalah 1 bulan upah bagi pekerja yang telah bekerja minimal 1 tahun. Sedangkan bagi pekerja yang masa kerjanya di bawah 1 tahun akan mendapatkan THR yang proporsional.

THR

Walaupun mendapatkan “penghasilan” tambahan dari THR, faktanya banyak penerima THR yang justru menjadi pusing tujuh puluh keliling pada saat Hari Raya. Bukan tanpa sebab tentunya. Pengeluaran yang membengkak dalam menyambut dan merayakan Lebaran sering lebih besar daripada THR yang didapatkan. Apalagi harga barang dan jasa pada umumnya akan naik pada saat menjelang Lebaran. Kalau kita mengutip istilah perdagangan, maka banyak orang yang “tekor” alias rugi pada saat Lebaran. Ibarat kata pepatah: besar pasak daripada tiang. Tentu saja ini jika dipandang dari sisi perhitungan uang masuk versus uang keluar. Lantas bagaimana caranya agar THR yang kita peroleh bisa mencukupi kebutuhan selama Lebaran?

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan. Pertama, kita perlu menyusun daftar pengeluaran apa saja yang akan menggunakan “anggaran” THR. Ini penting karena tanpa perencanaan sering kali pengeluaran menjadi tidak terkendali dan tiba-tiba saja kita terkejut karena THR sudah habis. Artinya kita harus mengetahui mana pengeluaran yang akan dibiayai dari THR dan mana yang bukan. Sesuai namanya, maka THR selayaknya digunakan hanya untuk kebutuhan-kebutuhan hari raya, bukan kebutuhan rutin sehari-hari yang normalnya bisa dipenuhi dari gaji yang diperoleh setiap bulan.

Apa sajakah kebutuhan hari raya itu? Setiap orang atau keluarga tentu memiliki jawaban yang berbeda-beda. Jawabannya bisa saja: mobil baru, sepeda motor baru, baju baru, makanan atau kue, TV baru, sofa baru, gorden baru, ponsel baru, “THR” untuk anak-anak dan kerabat, serta biaya transportasi untuk mudik ataupun silaturahmi ke rumah kerabat.

Setelah mengetahui kebutuhan apa saja maka kita bisa membuat perkiraan biaya dari masing-masing kebutuhan tersebut. Selanjutnya kita jumlahkan keseluruhan biaya. Kita lihat hasilnya apakah sama dengan THR yang kita peroleh atau justru lebih besar? Jika hasilnya sama atau lebih kecil maka neraca keuangan kita akan aman. Namun jika total pengeluaran lebih besar maka alamat tekorlah kita.

Langkah kedua untuk mencegah “tekor”, secara sederhana kita harus mengurangi pengeluaran tadi sehingga totalnya bisa sama dengan THR yang kita dapatkan. Apa saja yang harus dikurangi? Kita perlu membuat prioritas dari daftar kebutuhan di hari raya yang telah kita susun sebelumnya. Artinya semakin rendah prioritasnya maka semakin besar biaya yang dapat kita kurangi dari situ, bahkan jika perlu dihapuskan sama sekali dari daftar (rencana) kebutuhan hari raya. Apakah bisa?

Setelah berpikir dan menimbang-nimbang, sering kali kita merasa semua kebutuhan tadi memiliki prioritas yang sama. Semuanya telihat sama pentingnya. Membeli baju baru (terutama bagi anak-anak) sama pentingnya dengan membeli kue dan santapan di hari raya. Begitu pula “angpao” untuk anak dan kerabat juga sama pentingnya dengan biaya transportasi ke sana-sini. Akhirnya kita pun bingung karena tidak ada yang bisa dihapus atau dikurangi dari daftar kebutuhan. Apakah masih ada solusi?

Secara sederhana, jika pengeluaran besar dan pengeluaran tersebut tidak bisa kita kurangi lagi maka untuk mencegah tekor, langkah ketiga yang bisa kita lakukan adalah dengan cara memperbesar atau menambah jumlah pemasukan. Jika jumlah THR yang kita terima tidak mencukupi maka harus ada pemasukan dari sumber yang lain. Sekarang, apakah masih ada sumber pemasukan lain itu?

Untuk menambah pemasukan dari sumber lain tentu membutuhkan banyak persiapan, proses, dan waktu yang cukup. Artinya, kita perlu mempersiapkan hal ini “jauh-jauh hari” sebelum Hari Raya tiba. Misalnya dengan mengerjakan perkerjaan sampingan atau membuat pasif income yang bisa kita tabung setiap bulannya. Kita juga bisa berkreasi dengan keahlian kita untuk membuat usaha tambahan yang memang semarak pada masa menjelang Lebaran.

Namun biasanya menambah penghasilan dari sumber lain selain THR pada saat “injury time” sangat sulit atau hampir mustahil. Solusi ini adalah solusi jangka panjang yang mungkin tepat untuk menghadapi Lebaran tahun depan. Dengan demikian yang bisa kita lakukan adalah efisiensi atau berhemat di sisi pengeluaran. Apakah itu mungkin?

Bagi umat Islam yang merayakan Idul Fitri, hakikat dari perayaan hari kemenangan itu bukanlah dengan berfoya-foya yang menjurus ke arah hedonisme. Justru Idul Fitri adalah merayakan kemenangan atas hawa nafsu yang telah “diperangi” dengan melaksanakan ibadah puasa selama sebulan. Rasanya cukup wajar jika seorang pemenang merayakan kemenangannya dengan meriah, namun kemeriahan itu selayaknya jangan sampai menimbulkan masalah baru seperti bertambahnya utang akibat pengeluaran yang tidak terkendali.

Jika kita telah berhasil mengalahkan hawa nafsu selama Ramadan, maka ketika menyambut dan merayakan Idul Fitri seharusnya kita juga mampu mengalahkan “nafsu” belanja dan bisa menahan diri dari godaan diskon yang gila-gilaan. Kita juga akan mampu mengalahkan rasa “panas” di dada karena melihat tetangga membeli perabot dan mobil baru, misalnya.

Merayakan sebuah kemenangan dengan bersilaturahmi rasanya lebih indah karena kita dapat saling berbagi dalam kebersamaan. Perayaan Idul Fitri dengan berkumpul bersama anggota keluarga yang selama ini terpisah jarak dan waktu tidak harus dengan memamerkan segala sesuatu yang baru. Dengan demikian THR yang kita peroleh akan kita syukuri berapa pun jumlahnya. Apalagi jika kita bandingkan dengan orang lain yang mungkin tidak mendapatkan THR namun malah tidak pusing dalam menyambut hari raya karena dia telah mampu memaknai Hari Raya Idul Fitri sebagai kemenangan iman, bukan kemenangan semu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *