Selamat Hari Selamat!

Belakangan ini saya jadi teringat dengan Selamat, seorang teman di SMP dulu. Selamat ini orangnya “kutilang” alias kurus, tinggi, dan belang-belang (kaos kakinya). Saya takjub dengan dia, sebab apapun yang terjadi dia akan tetap Selamat.

Tapi mungkin Selamat sekarang juga mulai bingung pada sebuah keadaan yang jika kita memberi selamat kepada orang lain maka kita bisa tidak selamat. Banyak orang menjadi gamang apakah kita boleh menyelamati seseorang yang sedang “tidak selamat”?

Memberi ucapan selamat kepada orang lain bukan berarti kita sama dengan dia. Kita mengucapkan, “Selamat ulang tahun” kepada dia yang sedang merayakan ulang tahun dan kita memang sedang tidak berulang tahun. Kita tak perlu ikut-ikutan berulang tahun pada hari itu. Kita juga tak perlu mempermasalahkan kenapa dia lahir pada tanggal itu.

Memberi ucapan selamat kepada orang lain bukan berarti kita sama dengan dia. Bisa jadi si dia itu justru “musuh” kita. Mirip seperti pertandingan karate, misalnya. Ketika hendak bertanding kita akan mengucapkan “Selamat bertanding” karena kita saling menghormati dan ingin bertarung secara adil. Ketika selesai pertandingan, jika kita yang menang maka kita akan mendapat selamat dari lawan kita yang gentlement. Tapi apakah kita perlu memberi “selamat” atas kekalahan lawan kita? Tentu tidak. Dia bisa tersinggung atau bahkan marah.

selamat

Itu sedikit perumpamaan mengenai ucapan selamat dalam konteks menang-kalah. Yang kalah akan menyelamati yang menang. Sebaliknya yang menang justru tidak tepat jika memberi selamat atas kekalahan pihak lain. Sekarang, bagaimana jika kita dan dia memiliki ilmu karate yang sama–saya tidak gunakan lagi istilah lawan–, tidak saling mengalahkan tetapi bersama-sama, seiring-sejalan, membangun kebersamaan dalam menjaga kedamaian dan meningkatkan kualitas jurus-jurus karate.

Interaksi yang terjadi antara kita dengan dia adalah interaksi yang saling menghormati, jauh dari sifat menyombongkan diri bahwa ilmu karate kita lebih baik dari jurus yang dia punya yang terlihat lucu dan tak masuk akal. Begitu juga sebaliknya. Kita dan dia sama-sama menang karena tak perlu saling mengalahkan. Kita dan dia akan selamat dan saling memberi selamat.

Ketika dia tiba-tiba terjembrab pada sebuah lubang, kita akan menyelamatkan dia yang selama ini berbeda jurus dengan kita. Bukankah kita justru perlu menyelamatkan orang yang “tidak selamat”?

Apalah artinya Selamat jika tak bisa menyelamatkan orang lain.

Ketika Selamat bisa membuat orang lain untuk menjadi selamat, di situlah Selamat benar-benar menunjukkan eksistensi dirinya. Bukan sekadar nama yang tak pernah menjelma dalam nyata, hanya berkoar-koar: “Aku Selamat…, Aku Selamat…”. Atau yang lebih menyedihkan, ketika Selamat justru membuat orang lain menjadi tak selamat atas tindakannya.

Ah, sudah lebih 17 tahun saya tak bertemu teman saya yang bernama Selamat. Semoga suatu hari nanti saya bisa bertemu dia lagi. Sebab saya ingin mengucapkan: “Selamat Hari Selamat!” Sambil berharap dia membalasnya: “Selamat Hari Deman!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *